banner 728x250
Ragam  

Seorang Aktivis Senior di Wajo Murka Usai Gambar di Beritakan Tanpa Ijin

Sulselta
banner 120x600
banner 468x60

WAJO — Salah satu aktivis senior di kabupaten Wajo, Asdar Bur atau akrab di sapa Wiro murka setelah fotonya termuat pada salah satu media online tanpa persetujuan dirinya.

Wiro berang lantaran berita yang di muat adalah informasi terkait pidana penyerobotan. Dimana, foto yang terpampang dapat membuat persepsi negatif di masyarakat tentang dirinya.

banner 325x300

“Saya juga pernah bagian dari media dan tau aturan kewartawanan. Persoalan foto saya yang terpampang bukan bagian dari klarifikasi berita dan bukan hak jawab, ini murni pelanggaran pidana”, tegasnya (3/7/2021).

Wiro menjelaskan, Setiap Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan penggunaan decara komersial, penggandaan, pengumuman, pendistribusian, atau komunikasi atas potret adalah pelanggaran.

“Dalam Pasal 12 UU Hak Cipta mengambil gambar untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk penggunaan secara komersial, baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000, ujarnya”,

Asdar menuturkan, pada Pasal 12 UU Hak Cipta, sangat jelas jika setiap orang dilarang melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi atas Potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.

“Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, dan/atau Komunikasi Potret sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat Potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam Potret atau ahli warisnya”, sebutnya

Sementara dalam ranah formal jurnalistik lanjut Wiro, dalam Kode Etik Wartawan Indonesia pasal 4: “Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila”.

“Kode etik ini menjadi pedoman bukan hanya bagi wartawan dan jurnalis, tetapi bagi seluruh masyarakat yang memiliki akses terhadap sebuah foto”, ujarnya.

Terkait hal tersebut, penggunaan foto tidak boleh dilakukan secara sembarangan, karena terdapat hak cipta yang dimiliki oleh si pemilik foto dan foto yang hendak digunakan harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh hukum.

“Di foto berita itu sangat jelas bukan pelapor maupun terlapor. Sementara pada pemberitaan mengulas informasi delik hukum pidana”, tambahnya.

Wiro mengungkap, foto yang memuat dirinya pada judul “POLSEK PAMMANA LIMPAHKAN KASUS PENGRUSAKAN DI POLRES SETELAH HASIL GELAR PERKARA DITINGKATKAN KETAHAP PENYIDIKAN“. Dimana, berita tersebut di muat oleh media berinisial MHP.

“Hal ini akan saya bawa ke ranah hukum ketika tidak ada niat baik bagi pelakunya. Nama saya bisa tercemar oleh oknum ini”, tutup Asdar Bur. (Rs)

banner 325x300